ERRY RIYANA HARDJAPAMEKAS"Kade Hirup ulah Kabawa ku Sakaba-kaba, jeung Ulah Jarambah Teuing" (Meunang Jarambah tapi ulah Katutuluyan)

16 Jun 2003 - 2:16 am

Tokoh yang kami tampilkan ke hadapan sidang pembaca SundaNet.Com kali ini dikenal memiliki banyak jabatan yang dipercayakan kepadanya, aktif di berbagai organisasi serta kental kasundaannya. Beliau adalah bapak Erry Riyana Hardjapamekas.

Erry Riyana Hardjapamekas, dilahirkan di Bandung pada tanggal 5 September 1949, putera pasangan Bapak Sobri Hardjapamekas dengan Ibu T.Djuaedah. Erry yang beristrikan Ibu Yanie Netty Budiarti ini memperoleh gelar Sarjana Ekonomi bidang Akuntansi dari Universitas Padjadjaran Bandung pada tahun 1978. Tercatat dalam salah satu aktivitasnya, Erry pernah mengikuti Executive Education Program on "Corporate Financial Management" di Harvard Business School, tahun 1992, serta mengikuti berbagai seminar, lokakarya, dan konferensi, baik sebagai peserta maupun pembicara.

Sebagaimana dicatat dalam situs pribadinya yang beralamat di www.hardjapamekas.com, Erry menjabat sebagai Dirut PT. Timah Tbk., sejak 31 Maret 1994, diangkat kembali pada jabatan tersebut dalam RUPS luar biasa pada tanggal 10 Maret 199 dan diberhentikan dengan hormat dalam RUPS luar biasa tanggal 14 Maret 2002. Sebelumnya,ia menjabat sebagai Direktur Keuangan PT.Timah Tbk. dari tahun 1991 hingga 1994. Disamping itu, ia juga menjabat sebagai komisaris PT. Pembangunan Jaya Ancol, dan penasehat/anggota komite Audit PT. Unilever Indonesia Tbk., sejak 2001, Komisaris Utama PT. Agrakom, sejak 15 April 2002 menjadi komisaris dan Ketua Komite Audit PT. Semen Cibinong Tbk., Komite Audit PT. Kabelindo Murni Tbk., Komisaris dan Ketua Komite Audit PT. Hero Supermarket Tbk., dan mulai Maret 2003 menjadi komisaris PT. Kaltim Prima Coal. Sebelumnya pula, ayah dari 2 putera dan 2 puteri ini pernah menjabat Komisaris Utama PT. Bursa Efek Jakarta (1998-2001). Ia juga aktif dalam berbagai organisasi profesi serta Wakil Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage yang diketuai Bapak Prof. Ajip Rosidi. Atas dedikasi dan prestasinya dalam mengembangkan industri pertambangan di Indonesia, Erry memperoleh tanda jasa "Satyalancana Pembangunan" (1996), dan "Bintang Jasa Utama" (1997) dari Presiden Republik Indonesia.

Dalam salahsatu kesempatan berbincang-bincang dengan SundaNet.Com, Kang Erry yang juga aktif di berbagai organisasi kasundaan, menyampaikan pandangannya tentang Jati Diri Ki Sunda. Menurutnya, mungkin sejak awal pasca kemerdekaan, Ki Sunda dihinggapi kekecewaan emosional berkepanjangan untuk substansi masalah yang beragam, mulai kekecewaan akan pahlawannya yang diindikasikan terbunuh secara tidak normal (Otto Iskandar Dinata), kekecewaan (atau kecemburuan) akibat dominasi Jawa dalam tataran nasional, bahkan di tatar Sunda sendiri. Menurutnya, kekecewaan emosional itu tidak perlu dipelihara, apalagi bila harus diurut jauh ke belakang sampai dengan perang Bubat, dsb. "Justru kita harus menggunakan energi yang terbuang akibat menanggung rasa itu, bagi upaya-upaya keras dalam meningkatkan mutu SDM, dilandasi dengan mengubah perilaku emosional, dengan tujuan meningkatkan daya saing di tataran nasional," imbuhnya pula.

Tokoh yang besar perhatian akan "sarakannya" ini menyampaikan pula pendapatnya tentang tuntutan bagi masyarakat Sunda untuk bersikap "Nyunda". Menurutnya, perilaku yang "Nyunda" itu sifatnya sangat relatif. Dirinya beranggapan cukup "Nyunda", walaupun tidak menggunakan bahasa Sunda dalam percakapan di keluarganya, tetapi sekurang-kurangnya, anaknya fasih memanggil dirinya serta isterinya dengan sebutan buhun: Abah dan Ambu. Perhatian terhadap komponen budaya Sunda di luar bahasa, seperti menari misalnya, di keluarganya, diwujudkan dalam bentuk upaya isterinya mengajarkan tari Sunda kepada kedua puterinya.

Erry termasuk salah seorang yang secara agak fanatik mendukung pemberdayaan potensi local melalui Otonomi Daerah untuk kemajuan Bangsa dan negara Indonesia. Menurutnya, tatar Sunda (Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten) sebenarnya beruntung dekat dengan dan menjadi tulang punggung Jakarta, dengan segala prasarana yang ada, tapi tidak beruntung karena perencanaan wilayahnya yang tidak terpadu. Langkah penanganan yang menjadi pandangannya tentang hal itu, pertama memastikan peran kelembagaan dalam implementasi Otonomi Daerah beserta berbagai landasan hukumnya, yang saat ini masih belum jelas ujung perdebatannya. Kedua yang wajib dilakukan oleh kedua provinsi tersebut, disertai interkoneksi dengan DKI Jakarta, adalah mengkaji ulang seluruh perencanaan wilayah secara terpadu, menetapkan zoning (penetapan peruntukan wilayah) yang disepakati bersama. Ketiga, rencana pemanfaatan secara maksimal SDM yang ada, baik SDM maupun lembaga (ITB, UNPAD, IPB, dsb.), seraya merencanakan pemanfaatan SDA, baik yang terbarukan maupun yang tidak terbarukan.

Menutup perbincangan dengan SundaNet.Com, Kang Erry menyampaikan pesan pribadinya: "Meungpeung orang jujur sedang langka, jadilah orang jujur, agar ketika orang jujur sudah banyak, diri kita sudah terbiasa jujur." "Urang kudu cageur heula, terus bageur, hirup sing bener, teangan kapinteran, siarkeun ku amal: Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh. Pesan serta kata-kata bijak dari orang tuanya yang senantiasa menjadi falsafah serta pegangan hidupnya, yaitu: Kade ulah kabawa ku sakaba-kaba, jeung ulah jarambah teuing (meunang jarambah tapi ulah katutuluyan)."



(Bahan: Wawancara dengan SundaNet.Com dan diambil dari berbagai sumber).