Saba Desa

29 Aug 2001 - 12:00 am

Tatar Sunda yang nota bene adalah Propinsi Jawa Barat sangat kaya dengan keanekaragaman adat dan budaya, termasuk di dalamnya perkampungan adat yang mempunyai keunikan serta ciri khas di dalam budaya dan adat istiadatnya. Perkampungan adat ini tersebar di Kabupaten Garut, Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis. Berikut sekilas penjelajahan kita tentang kampung adat yang ada di tatar Sunda, lewat perjalanan saba desa.


KAMPUNG NAGA

Kampung adat yang terletak di desa Neglasari, kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Letak Geografisnya terisolir dan berada pada 500 meter dibawah jalan raya Garut - Tasikmalaya, diapit dua perbukitan dataran tinggi hulu sungai Ciwulan bernama hutan Karamat Naga seluas 2 Ha, dan hutan Biuk seluas 1,5 ha. Tidak boleh sembarang orang masuk kedalam hutan tersebut, sehingga keadaan hutan tetap utuh. Penduduk Kampung Naga masih mempertahankan adat karuhun.

Ciri khas menarik di Kampung Naga adalah adanya bentuk dan ukuran rumah yang sama, yaitu 5 x 8 meter dengan atap dari injuk berdinding bambu. Jumlah rumah dibatasi 106 buah, termasuk sebuah mesjid dan sebuah balai pertemuan. Tahun 1994, penghuni Kampung Naga berjumlah 319 orang. Agamanya Islam, yang dalam banyak hal diatur adat karuhun. Taat terhadap kuncen dan kokolot yang merupakan aturan adat dan harus di pegang teguh. Diatas bukit Kampung Naga ada makam keramat yang dikenal sebagai sembah dalem Singaparna.


KAMPUNG PULO

Kampung adat berlokasi didesa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Ciri khasnya adalah jumlah jiwa pada satu keluarga paling banyak 6 orang. Bentuk dan bahan rumah sama, untuk panggung suhunan (bubungan) panjang yang disebut Jelopong. Pantang memelihara binatang berkaki empat dan tabu menabuh Gong.

Bila satu kepala keluarga memiliki anggota lebih dari enam orang, sebagian harus pindah ke kampung lain. Disebut Kampung Pulo karena kampung itu terletak dikawasan danau. Diantara adat yang dilakukan masyarakat, yaitu berziarah ke makam keramat para leluhur mereka.


KAMPUNG KUTA

Kampung adat yang terletak di desa Pasir Angin, Kecamatan Tambahsari Kabupaten Ciamis. Adat yang menjadi ciri khas, yaitu rumah panggung, suhunan (bubungan) panjang dengan atap ijuk atau kiray. Rumah pantang menghadap ke Timur dan tidak boleh terbuat dari tembok. Mereka juga melaksanakan upacara hajat bumi dan upacara lain yang berhubungan dengan pertanian dan lain-lain. Tradisi tersebut merupakan warisan leluhur mereka. Masyarakat dipimpin seorang kepala adat.


KAMPUNG DUKUH

Kampung adat di desa Cijambe, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut selatan. Berlokasi ditempat terpencil, yang dikelilingi kawasan hutan jati. Masyarakatnya beragama Islam dan memegang adat warisan leluhurnya serta memiliki budaya tradisonal yang khas.