Hasil Pencarian

Hasil pencarian untuk kata kunci terbuka (18)

AJIP ROSIDI : "SOSOK ORANG SUNDA MODEREN?"Oleh : Ganjar Kurnia (Pusat Dinamika Pembangunan Universitas Padjadjaran)

14 Dec 2004 - 10:38 pm

Sebagai orang yang tidak pernah berinteraksi secara mendalam dengan Kang Ajip Rosidi (KAR), maka ketika diminta untuk memberi pandangan terhadap KAR, satu-satunya upaya yang bisa dilakukan adalah membaca buku-bukunya. Karena tinjauannya lebih kepada pemahaman terhadap sosok pribadi (bukan telaah karya sastra), maka pilihan jatuh kepada buku-buku karya KAR yang menurut KAR sendiri "jiga otobiografi atawa memoar" atau "panineungan". Adapun buku-buku yang dianggap "jiga otobiografi atawa memoar" dan "panineungan" tersebut adalah : Hurip Waras (1988), Beber Layar (Cetakan ke 1 tahun 1964), Pancakaki (1993), Trang-trang Kolentrang (1999), Ucang-Ucang Angge (2000).

Drs. SETIA PERMANA, MSi"Konci Hirup, Salawasna Kudu Daria dina Nyanghareupan Rupa-rupa Pasualan"

4 Nov 2004 - 7:44 am

Walaupun sudah cukup lama bersama-sama melaksanakan berbagai kegiatan dengan tokoh yang kami tampilkan kali ini, SundaNet.Com baru memiliki kesempatan untuk menampilkan profilnya. Hal ini mungkin karena sifatnya yang "handap asor" serta low profile yang menjadikan dirinya agak enggan untuk ditampilkan di rubrik ini. Pada kesempatan pertama di penghujung tahun 2003, saat SundaNet.Com melaksanakan kegiatan di 8 Kota/Kabupaten dalam rangka Sosialisasi Tata Ruang dan Permukiman Jawa Barat bersama Dinas terkait melalui Pagelaran Tembang Sunda Nurhidayahan dan Dialog terbuka bersama tokoh-tokoh masyarakat, tokoh kita ini menjadi moderator untuk kegiatan diskusi tersebut. Kemudian saat Dialog Terbuka tentang Lingkungan Permukiman Sehat,, di Kota Depok, Bekasi dan Cirebon,barulah SundaNet.Com berkesempatan bisa menggali informasi seputar dirinya dan menampilkan profilnya di situs ini.

PESONA TARI TRADISI DALAM TOPENG CISALAK

27 Sep 2004 - 3:22 am

Asap pedupaan masih mengepul di antara nayaga saat seorang ronggeng (penari) wanita dengan mengenakan toka-toka, apok, kebaya, sinjang dan ampreng dengan warna cerah kuning, hijau dan merah setengah membungkuk pertanda memberi salam muncul dari balik tirai. Selangkah kemudian mulai melakukan gerakan dengan tangan dikembangkan dan kaki setengah maju mundur.

Beberapa gerakan dasar tarian pembuka semisal rapat nindak, tenggang rapat, pakbang dan blongter dilakukannya dengan sangat baik. Terkadang ayunan badannya yang luwes diiringi senyum simpul godaan para nayaga yang tepat berada di balik tirai. Sejurus kemudian sang penari membalikkan badannya membelakangi penonton dengan tidak henti-hentinya menggoyangkan bagian pinggulnya. Diambilnya topeng berwarna putih sebagai tarian topeng pembuka dari tiga tarian yang akan dimainkannya dalam tarian Topeng Tunggal.

PERAN SANGKURIANG DAN DANGHYANG SUMBI DALAM LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHUSuatu kajian Hermeneutika terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu dengan segala aspeknya

3 May 2004 - 11:49 pm

Legenda tentang terjadinya Gunung Tangkubanparahu sangat dikenal di Tatar Sunda, disebut pula sebagai sasakala terjadinya Talaga Bandung atau dongeng Sangkuriang. Adapun tokoh Danghyang Sumbi yang seharusnya menjadi esensi maknawi dalam mitos ini sering tersisihkan oleh peran Sangkuriang - puteranya. Wacana yang tersaji kali ini adalah upaya untuk mengarifi nilai-nilai mitos yang terkandung dalam legenda gunung Tangkubanparahu, sehingga mempunyai nilai tambah bagi pemaknaan kita terhadap wawasan budaya lokal.

SAUNG ANGKLUNG UDJO

28 Jan 2004 - 9:39 pm

Tahun 1967 untuk pertama kalinya rombongan turis dari Belanda berkunjung ke Saung Angklung Udjo. Sebuah tempat di desa Padasuka, dikelilingi hamparan sawah dan kerimbunan rumpun bamboo, dimana anak-anak kecil bergembira dengan aneka permainan desa, belajar berbagai kesenian daerah dibawah bimbingan Udjo Ngalagena. Inilah Saung Angklung Udjo, tempat angklung dibuat, dipelajari, dimainkan, dan dipertunjukan dengan penuh keceriaan. Tempat yang telah dikunjungi wisatawan dari seluruh belahan dunia.