Hasil Pencarian

Hasil pencarian untuk kata kunci artikel (6)

KAMPUNG NAGA

16 Jan 2005 - 1:01 am

Kampung Naga merupakan suatu perkampungan yang dihuni oleh sekolompok masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leleuhurnya. Hal ini akan terlihat jelas perbedaannya bila dibandingkan dengan masyarakat lain di luar Kampung Naga. Masyarakat Kampung Naga hidup pada suatu tatanan yang dikondisikan dalam suasana kesahajaan dan lingkungan kearifan tradisional yang lekat.

Kampung Naga secara administratif berada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Propinsi Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga tidak jauh dari jalan raya yang menghubungkan kota Garut dengan kota Tasikmalaya. Kampung ini berada di lembah yang subur, dengan batas wilayah, di sebelah Barat Kampung Naga dibatasi oleh hutan keramat karena di dalam hutan tersebut terdapat makam leluhur masyarakat Kampung Naga. Di sebelah selatan dibatasi oleh sawah-sawah penduduk, dan disebelah utara dan timur dibatasi oleh sungai Ciwulan yang sumber iarnya berasal dari Gunung Cikuray di daerah Garut. Jarak tempuh dari kota Tasikmalaya ke Kampung Naga kurang lebih 30 kilometer, sedangkan dari kota Garut jaraknya 26 kilometer. Untuk menuju Kampung Naga dari arah jalan raya Garut-Tasikmalaya harus menuruni tangga yang sudah di tembok (Sunda sengked) sampai ketepi sungai Ciwulan dengan kemiringan sekitar 45 derajat dengan jarak kira-kira 500 meter. Kemudian melaluai jalan setapak menyusuri sungai Ciwulan sampai kedalam Kampung Naga.

DANGIANG AKSARA SUNDAPemaknaan Filosofi terhadap Susunan (Abjad) Aksara Sunda

9 Jun 2004 - 2:42 am

Hasil Lokakarya Aksara Sunda yang dilaksanakan atas prakarsa Pemda TK I Prop. Jabar dan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran, tanggal 21 Oktober 1997, adalah peristiwa budaya yang sangat besar dan mendasar "bagi" peradaban Sunda. Bangsa yang mempunyai sistem ortografis sendiri, berkemungkinan untuk menjadi bangsa yang "besar".
Wacana ini mencoba menarik makna yang terdalam dari rangkaian AKSARA SUNDA yang telah ditetapkan dalam Perda Prop. Jabar No.5 Tahun 2003.
Penulis beranggapan bahwa setiap fonem dan fonetis yang ditulis dan diucapkan akan mempunyai makna yang sangat hakiki. Mungkin hal ini sesuatu yang masih dianggap terlalu jauh untuk ditafakuri, tetapi pemikiran ke arah ini bukanlah sesuatu yang baru, Ibnu Arabi pada abad VI H sudah memulainya dengan analisis HAKIKAT LAFADZ ALLAH -- Menemukan Rahasia Ketuhanan Melalui Studi Teks "Jalalah" -- terjemah Drs. Hassan Abrori M.A., Pustaka Progresif, Surabaya, 1996, dan pustaka lainnya yang tersebar di masyarakat.
Dengan menggunakan metoda ekliktika dan setelah meneliti kaidah-kaidah pemaknaan aksara/huruf dari bermacam sumber maka dapat disimpulkan bahwa dalam kandungan SUSUNAN AKSARA SUNDA terdapat pesan maknawi yang holisitk dan religius yang bisa dijadikan acuan hidup masyarakat Sunda.

TEMBANG SUNDA LARAS SOROG II

25 Oct 2002 - 4:25 pm

Kelanjutan dari artikel sebelumnya: "TEMBANG SUNDA LARAS SOROG I".

SILIH ASIH, SILIH ASAH, SILIH ASUH (2)Ku: Hidayat Suryalaga

6 Sep 2001 - 10:06 am

Konsep dasar silih asah nyaeta silih tambahan kanyaho, silih seukeutan elmu pangaweruh, silih tambahan pangalaman. Ningkatkeun kamaheran jeung ningkatkeun kualitas mikir pikeun ngungkulan tangtangan atawa masalah nu disanghareupan.

SILIH ASIH, SILIH ASAH, SILIH ASUH (1)Ku: Hidayat Suryalaga

6 Sep 2001 - 8:39 am

Babasan disebut oge kacapangan atawa motto nu kacida dipiwanohna ku masarakat Tatar Sunda, nya eta SILIH ASIH - SILIH ASAH - SILIH ASUH; sok disingget istilahna jadi SILAS.