Hasil Pencarian
Hasil pencarian untuk kata kunci lihat (60)
- GENJRING BONYOK (Dari Kabupaten Subang)Oleh: Bp. Nana Munajat, S.Sen
10 May 2004 - 3:20 am
Kesenian genjring Bonyok memiliki corak kehidupan dan perkembangan yang agak berbeda dengan kesenian lain yang tumbuh dan berkembang di Kecamatan Pagaden kabupaten Subang. Kesenian mampu berkembang lebih cepat, mendapat popularitas lebih cepat dan diterima oleh masyarakat sebagai kesenian tradisional miliknya sendiri yang dapat dinikmati.
Pengertian Genjring Bonyok asal mula dari Genjring dan Bonyok. Genjring adalah waditra berkulit yang memakai semacam anting-anting terbuat dari besi atau perunggu sebagai penghias seperti rebana. Sedangkan Bonyok adalah nama daerah di desa Pangsor Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang. Genjring bonyok artinya kesenian Genjring yang awal mulanya berada di daerah Bonyok. Kesenian merupakan salahsatu jenis seni musik tradisional (karawitan) yang alat musiknya terdiri dari Genjring, Bedug, Kecrek, Tarompet dan Goong.- PERAN SANGKURIANG DAN DANGHYANG SUMBI DALAM LEGENDA GUNUNG TANGKUBANPARAHUSuatu kajian Hermeneutika terhadap Legenda dan Mitos Gunung Tangkubanparahu dengan segala aspeknya
3 May 2004 - 11:49 pm
Legenda tentang terjadinya Gunung Tangkubanparahu sangat dikenal di Tatar Sunda, disebut pula sebagai sasakala terjadinya Talaga Bandung atau dongeng Sangkuriang. Adapun tokoh Danghyang Sumbi yang seharusnya menjadi esensi maknawi dalam mitos ini sering tersisihkan oleh peran Sangkuriang - puteranya. Wacana yang tersaji kali ini adalah upaya untuk mengarifi nilai-nilai mitos yang terkandung dalam legenda gunung Tangkubanparahu, sehingga mempunyai nilai tambah bagi pemaknaan kita terhadap wawasan budaya lokal.
- DR.Ir. Mubiar Purwasasmita"Leuweung Ruksak, Cai Beak, Manusa Balangsak"
24 Dec 2003 - 2:25 am
Walaupun berlatar belakang Sarjana Teknik Kimia ITB serta lulus Doktor Teknologi Pemrosesan di Institut Nationale Polytechnique de Lorraine di Nancy Perancis tahun 1985, ketertarikan, kepedulian serta aktivitasnya di bidang kehutanan serta lingkungan hidup, khususnya di Jawa Barat tidak diragukan lagi. Dalam beberapa kegiatan, sebagai dosen, peneliti dan pengabdi kepada masyarakat, baik sendiri maupun bersama tim semenjak tahun 2000 hingga sekarang telah melakukan banyak hal, khususnya dalam memecahkan berbagai masalah lingkungan alam yang kritis, khususnya yang menyangkut infrastruktur alam hutan, sungai, danau, pesisir, pulau dan udara.
- KABUYUTAN UNTUK PENGELOLAAN LINGKUNGANOleh: Oman Abdurahman dan Yustiaji
17 Nov 2003 - 12:34 am
Catatan atau peninggalan sejarah Sunda tertua yang memuat istilah kabuyutan sejauh ini adalah sebuah prasasti yang dikenal dengan prasasti Cibadak. Prasasti ini merupakan peninggalan Sri Jaya Bupati, seorang raja Sunda, yang dibuat antara 1006-1016 M, Prabu Sri Jaya Bhupati memerintah bersamaan saat di Kediri, Jawa Timur, memerintah Raja Airlangga. Dalam prasasti tersebut, Sri Jayabupati telah menetapkan sebagian dari Sungai Sanghyang tapak (saat itu), sebagai kabuyutan, yaitu tempat yang memiliki pantangan (larangan) untuk ditaati oleh segenap rakyatnya.
- TERUSIKNYA KEMESRAAN ANTARA RUANG KEHIDUPAN ALAMIAH DENGAN MANUSIA DALAM USAHA UNTUK NGERTAKEUN BUMI LAMBAOleh: H.R. Hidayat Suryalaga
13 Oct 2003 - 2:05 am
Dalam judul wacana di atas, ada satu "kalimat" yang mungkin terasa masih agak asing dalam pengertian kita yaitu "NGERTAKEUN BUMI LAMBA". Istilah tsb terambil dari Naskah Kuno SANGHIYANG SIKSA KANDA'NG KARESIAN (Th 1518 M), ketika pemerintahan Sang Prabu Siliwangi (Jaya Dewata, Sri Baduga Maharaja, Keukeumbingan Raja Sunu, Sang Pamanah Rasa - 1482 - 1521 M) di kerajaan Pajajaran. Dalam naskah tsb, dikatakan bahwa tugas manusia hidup di dunia adalah untuk Ngertakeun Bumi Lamba yang artinya MENJEJAHTERAKAN KEHIDUPAN DI DUNIA dan ini sepemaknaan dengan konsep RAHMATAN LIL ALAMIN.





















