Hasil Pencarian

Hasil pencarian untuk kata kunci spiritual (7)

KOTA DEPOKMANDALA BINAYA PANTI KAWIKWAN

19 Oct 2004 - 2:13 am

Ketika kita memasuki kota-kota yang berada di Tatar Sunda - Jawa Barat, yang terasa dan terekam sebagian besar adalah atmosfir kehidupan kota-kota bernuansakan "jaman sekarang", kota metropolis yang hampir seragam keadaannya. Demikian pula permasalahan yang dihadapi para stakeholders pun hampir seragam pula. Antara lain permukiman kumuh, sampah yang selalu menjadi masalah, perihal air yang semakin mengkhawartirkan baik kualitas maupun kuantitasnya. Ini baru masalah yang berskala fisik, belum lagi masalah kehidupan lainnya yang menyangkut kualitas penduduknya. Bukankah IPM Provinsi Jawa Barat hanya menduduki nomor 17 dari 26 provinsi di NKRI ini, di bawah IPM Provinsi Papua dan NAD.

RAWAYAN JATI SARENG SAD KAMANUSAAN, SUMBER AJEN INAJEN AKHLAK KASUNDAANKonsep Akhlak Sunda anu Islami pikeun Atikan di Institusi Formal, in-Formal, non-Formal

30 Mar 2004 - 2:10 pm

Luyu sareng udagan nu bade dihontal ku ieu "diskusi" nu diayakeun ku Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung, nyaeta "Sebuah Upaya Pewarisan Budi Pekerti kepada Siswa Sekolah" nu diluuhan ku para pangatik widang studi agama, hususna Agama Islam.

KAJIAN SOSIO-BUDAYA MAKNA IKON FAUNA JAWA BARATSumbang Saran untuk Menentukan Ikon Fauna Khas Jawa Barat

1 Mar 2004 - 12:38 am

Masyarakat Jawa Barat, khususnya Etnis Sunda, pada umumnya mempunyai kebiasaan dalam MENGARTIKAN dan MEMAKNAI sesuatu yang bersifat eksternal dikaitkan dengan sesuatu yang internal. Hal ini terjadi karena kedekatan yang begitu erat dengan alam sekitar baik fisik/kontur alam, flora maupun fauna. Dengan demikian kekuatan Mithos Lama sebagai acuan berperilaku/berkehidupan masih mendapat perhatian yang sangat menentukan di masyarakat Sunda.

MAKNA ALAT TENUN TRADISIONAL MENURUT PADANGAN HIDUP URANG SUNDA (Bagian 2)H.R. Hidayat Suryalaga

13 Oct 2003 - 2:10 am

Bahan yang digunakan untuk alat bertenun, terutama yang berasal dari flora/kayu, diuraikan secara rinci. Ini memberi ilustrasi bahwa masyarakat Sunda lama sangat akrab dengan kualitas bermacam flora/kayu, tentu saja dapat dikaitkan pula dengan penanda nilai filosofinya.

Beberapa nama flora yang biasa disebut a.l: Jati Pangrango, Ki Merak, Manglid, Ki Maung, Ki Putri, Jeungjing, Tangkolo Hejo, Ruyung Sagara, Hantap Heulang, Tamiang Sono, Ki Julang Nunggal, Bungbulang Peucang, Ki Julang Anom, Kai Tanggulun, Kai Tanggilin, Awi Tali Nunggal, Awi Bitung, Tanjung, Katapang.

Demikian pula penggunaan nama-nama tokoh (Wayang, Babad, Sejarah, nama fiktif folklorik, toponimi), mengandung makna filosofis tertentu. Semoga suatu saat ada perbincangan yang tentu akan sangat menarik untuk disimak dari para ahli tentang makna simbolisasi yang terkandung di dalamnya.

TERUSIKNYA KEMESRAAN ANTARA RUANG KEHIDUPAN ALAMIAH DENGAN MANUSIA DALAM USAHA UNTUK NGERTAKEUN BUMI LAMBAOleh: H.R. Hidayat Suryalaga

13 Oct 2003 - 2:05 am

Dalam judul wacana di atas, ada satu "kalimat" yang mungkin terasa masih agak asing dalam pengertian kita yaitu "NGERTAKEUN BUMI LAMBA". Istilah tsb terambil dari Naskah Kuno SANGHIYANG SIKSA KANDA'NG KARESIAN (Th 1518 M), ketika pemerintahan Sang Prabu Siliwangi (Jaya Dewata, Sri Baduga Maharaja, Keukeumbingan Raja Sunu, Sang Pamanah Rasa - 1482 - 1521 M) di kerajaan Pajajaran. Dalam naskah tsb, dikatakan bahwa tugas manusia hidup di dunia adalah untuk Ngertakeun Bumi Lamba yang artinya MENJEJAHTERAKAN KEHIDUPAN DI DUNIA dan ini sepemaknaan dengan konsep RAHMATAN LIL ALAMIN.