Hasil Pencarian

Hasil pencarian untuk kata kunci tetap (100)

GEMBYUNGKesenian dari Kabupaten Cirebon

9 Feb 2004 - 12:32 am

Salah satu peninggalan budaya Islam di Cirebon adalah Seni Gembyung. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian Terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Konon kesenian terbang itu salahsatu jenis kesenian yang dipakai sebagai media penyebaran Agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Entah siapa yang punya ide untuk mengembangkan seni terbang ini dan kapan. Yang jelas kesenian Gembyung muncul di daerah Cirebon setelah kesenian terbang hidup cukup lama di daerah tersebut.

KUJANG DALAM BEBERAPA NASKAH

19 Jan 2004 - 11:24 pm

Untuk mencermati lebih jauh mengenai kujang, berikut ini informasi mengenai kujang seperti terdapat dalam beberapa naskah tertulis yang diperoleh. Hal ini sebagai upaya dokumentasi naskah mengenai kujang agar memudahkan semua pihak yang hendak melakukan kajian lebih mendalam.

KUJANGSenjata Khas Urang Sunda

17 Jan 2004 - 6:20 am

"...Ganjaran nu belapati, satria santosa iman, Raden teu burung dileler, jimat kujang nu utama, pikeun neruskeun lampah, pangjurung ngapung ka manggung, pamuka lawang ka Sunan. Cangkingan lalaki langit, wangkingan lalanang jagat, wewesen leber wawanen, saratna sapira kujang nanging jadi lantaran, Sunan Ambu mikayungyun, para jawara ngaraksa. Kujang the dipake ciri, pusaka Tanah Pasundan, ciciren gede wewesen, pantang lumpat ngandar jangjang, ngeok eleh ku bikang, saur galur nu cacatur, kujang dua pangadekna..."

KABUYUTAN UNTUK PENGELOLAAN LINGKUNGANOleh: Oman Abdurahman dan Yustiaji

17 Nov 2003 - 12:34 am

Catatan atau peninggalan sejarah Sunda tertua yang memuat istilah kabuyutan sejauh ini adalah sebuah prasasti yang dikenal dengan prasasti Cibadak. Prasasti ini merupakan peninggalan Sri Jaya Bupati, seorang raja Sunda, yang dibuat antara 1006-1016 M, Prabu Sri Jaya Bhupati memerintah bersamaan saat di Kediri, Jawa Timur, memerintah Raja Airlangga. Dalam prasasti tersebut, Sri Jayabupati telah menetapkan sebagian dari Sungai Sanghyang tapak (saat itu), sebagai kabuyutan, yaitu tempat yang memiliki pantangan (larangan) untuk ditaati oleh segenap rakyatnya.

MAKNA ALAT TENUN TRADISIONAL MENURUT PADANGAN HIDUP URANG SUNDA (Bagian 2)H.R. Hidayat Suryalaga

13 Oct 2003 - 2:10 am

Bahan yang digunakan untuk alat bertenun, terutama yang berasal dari flora/kayu, diuraikan secara rinci. Ini memberi ilustrasi bahwa masyarakat Sunda lama sangat akrab dengan kualitas bermacam flora/kayu, tentu saja dapat dikaitkan pula dengan penanda nilai filosofinya.

Beberapa nama flora yang biasa disebut a.l: Jati Pangrango, Ki Merak, Manglid, Ki Maung, Ki Putri, Jeungjing, Tangkolo Hejo, Ruyung Sagara, Hantap Heulang, Tamiang Sono, Ki Julang Nunggal, Bungbulang Peucang, Ki Julang Anom, Kai Tanggulun, Kai Tanggilin, Awi Tali Nunggal, Awi Bitung, Tanjung, Katapang.

Demikian pula penggunaan nama-nama tokoh (Wayang, Babad, Sejarah, nama fiktif folklorik, toponimi), mengandung makna filosofis tertentu. Semoga suatu saat ada perbincangan yang tentu akan sangat menarik untuk disimak dari para ahli tentang makna simbolisasi yang terkandung di dalamnya.