Hasil Pencarian
Hasil pencarian untuk kata kunci diangkat (23)
- Naskah Kuna: WAWACAN ISTRI SAJATI
22 Jul 2002 - 5:30 am
Pak Sarikam yang hidupnya menduda, tinggal di desa Sukasari. Pekerjaan sehari-hari sebagai tukang kayu (bas). Pada waktu ia sedang memborong membangun rumah pak Lurah. Masih di desa itu tinggallah seorang gadis yatim piatu bernama Nyi Sari. Ia belum mendapat Jodoh, mungkin karena penyakit yang di deritanya selama ini, yaitu sekujur tubuhnya penuh dengan koreng. Pak Sarikam dating meminangnya, maka kemudian kawinlah mereka.
- WAWACAN GANASWARAOleh: Kyai Ahmad Sobandi
11 Jul 2002 - 5:54 am
Raja Yaman mempunyai seorang putrid yang cantik bernama Ratna Komala. Sudah 25 orang raja yang mencoba melamarnya, akan tetapi tak seorangpun yang diterima oleh sang putri.
Di sebuah kampung ada seorang laki-laki yang telah ditinggal mati oleh istrinya, pekerjaan sehari-hari hanyalah menyapu jalan. Ia mempunyai dua orang anak laki-laki bernama Buntaran dan Ganaswara.- Naskah Kuna: PANTUN RAMAYANA
25 Jun 2002 - 7:38 am
Patih Sang Sombali pindah dari Lengkapura untuk menetap di Perkampungan Candi Jambu Luwuk. Atas petunjuk bianglala, ia menemukan seorang bayi yang keluar dari luka Sang Manondari yang tewas dan dikuburkan di Bukit Si Miri-miri, Palasari, bersama suaminya Rawana, dan saudaranya Mantri Premana. Rawana terbunuh dalam peperangan oleh Sang Ramadewa. Bayi itu kemudian diambil dan dipelihara serta dinamai Brabu Manabaya oleh Sang Sombali.
- SEJARAH TASIKMALAYAOleh: Ietje Marlina
19 Jun 2002 - 6:00 am
Sebelum ibukota Kabupaten Sukapura berkedudukan di Tasikmalaya, kota ini merupakan sebuah afdeeling yang diperintah oleh seorang Patih Lurah (Zelfstandige Patih). Waktu itu namanya Tawang atau Galunggung. Sering juga penyebutannya disatukan menjadi Tawang-Galunggung. Tawang sama dengan "sawah" artinya tempat yang luas terbuka, dalam Bahasa Sunda berarti "palalangon".
- BEREGEJED III
15 May 2002 - 1:56 am
Waktu Ki Sanip keur ngasuh incuna anu umur lima taun, kalayang teh aya langlayangan leupas luhureunana.
"Udag, Ki, Udag!" ceuk incuna bari nyurung-nyurung incuna.
Sabenerna Ki Sanip teh geus kolot, geus bongkok.
Leumpang ge dongko komo ieu kudu lumpat. Tapi dasar nyaah ka incu, ngan beretek we manehna lumpat ngudag langlayangan. Tapi hanjakal teu hasil.
Bari renghap ranjung manehna nyamperkeun incuna.
"Lapur Cu, teu kaudag."
"Tuda Aki mah salah. Lumpatna bari jeung dongko sagala. Pan geus puguh langlayangan mah diluhur, teu kudu dodongkoan siga neangan duit leungit, Ki!" ceuk incuna, ngagelendeng semu nu keuheul pisan.





















