Hasil Pencarian
Hasil pencarian untuk kata kunci karawitan (18)
- FESTIVAL STI 200335 Tahun Studio Tari INDRA
4 Apr 2003 - 3:03 am
35 tahun merupakan usia yang cukup panjang bagi sebuah studio tari di tanah air tercinta ini. Di Bandung, 35 tahun yang lalu, Studio Tari INDRA berdiri; cita-cita dan harapan serta idealisasinya muncul dari seorang wanita yang 'notebene' seorang penari bernama Indrawati. Indrawati mengelola studionya dengan penuh tanggung jawab dan selalu berusaha memandirikan studionya melalui jalur pendidikan luar sekolah, yakni kursus tari, baik dari usia dini/anak, dewasa, remaja. Sudah banyak anak didiknya yang muncul sebagai penari maupun simpatisan tari, sehingga turut pula menunjang kelangsungan hidup dari Studio Tari INDRA. Tari-tari yang dikembangkannya adalah tari-tari Sunda, awalnya tari-tarian karya R. Tjetje Somantri, gurunya, tetapi selanjutnya ia mengembangkan transformasi gaya R. Tjetje menjadi gayanya, gaya Indrawati.
- SEKOLAH MENENGAH KESENIAN INDONESIA (SMKI)
29 Jan 2003 - 9:09 pm
SMKI adalah satu-satunya sekolah menengah kejuruan yang menggarap kesenian Jawa Barat. Ketika didirikan pada tahun 1958 institusi pendidikan ini bernama Konservatori Karwitan dibawah naungan Direktorat Jenderal Kesenian. Setelah dikelola Dikmenjur (Pendidikan Menengah Kejuruan), namanya berubah menjadi Sekolah Menengah Karawitan Indonesia, dan pada tahun 1994 menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 10 (SMKN 10) Jurusan Seni Pertunjukan. Namun karena dirasa lebih tepat, banyak orang lebih suka menyebutnya sebagai SMKI, atau Sekolah Menengah Kesenian Indonesia.
- Misi Seni Ka Luar Negri, Antara Potensi Jeung PromosiKu: Nano S.
7 Jan 2003 - 12:20 am
Taun genep puluhan mun aya misi seni kasenian Sunda ka luar negri, biasana sok diwakilan ku seni tari, pangpana tarian karya ti Tjetje Somantri. Nu jadi panangkesna ti Jawatan Kabudayaan, salaku lembaga pamarentah nu gede wibawana ka balarea, pangpangna keur para seniman. Para penari anu dipilih keur jadi anggota misi kesenian, tangtu wae lolobana para penari anu sok latihan ti Jawatan Kabudayaan, kitu deui para pangrawitna (nayaga). Kusabab eta misi kesenian teh digabung jeung kesenian daerah sejen, anggotana biasana tara pati loba, komo pangrawitna mah dipilih nu pokona bae. Upamana juru kendang, rebab, jeung sabaraha urang tambahanana. Kakuranganana sok dibantuan ku seniman Jawa, anu biasana leuwih kumplit anggotana. Ngaran misi kesenian sok disebut misi kesenian kepresidenan, sebab ieu kagiatan teh mangrupa wakil nagara Indonesia, dina ngarakutkeun hubungan jeung nagara luar, kaasup upaya mintonkeun kabinangkitan kasenian di Indonesia anu Bhineka Tunggal Ika. Salian keur kagiatan misi seni ka luar negri, ti Jawa Barat oge remeh ngeusian acara di istana negara keur ngahibur para tamu ti luar negri. Para penari anu sok mindeng di istana negara, biasana sok meunang landihan penari istana.
- WANITA DENGAN PERANNYAOleh: H.R. Hidayat Suryalaga
24 Dec 2002 - 11:12 pm
Tulisan ini sebagai suatu upaya mencari "KABERKAHAN" dari peran seorang IBU/WANITA berdasarkan Folklor Sunda dan kajian kasus per kasus. Semoga bermanfaat bagi perbincangan kita dalam arus "persamaan hak dan gender" yang kini hangat dicelotehkan orang.
Tulisan yang tidak berpretensi ilmiah ini saya persembahkan kepada semua wanita, sebagai rasa hormat dan kagum kepada insan yang ditakdirkan menjadi wanita. Wacana ini penulis susun sebatas menelusuri dan mengkaji nilai-nilai luhur mengenai kedudukan dan peran wanita yang terjumpai dalam folklor Sunda. Pada akhirnya diharapkan kita semua faham bagaimana "ngalap berekah" dari insan yang ditakdirkan menjadi wanita. Bukankah kata leluhur Sunda "ARI MUNJUNG ULAH KA GUNUNG, MUNJUNG MAH KUDU KA INDUNG".- NANO S.Lamun jadi Seniman Ulah Hees ku Hese, Kudu Lain jeung nu Lian, jeung Kade Poho Layu sabab Payu
24 Sep 2002 - 12:37 am
Setelah cukup sering menerima permintaan dari rekan-rekan netter agar SundaNet.Com menampilkan figur pencipta lagu-lagu Sunda terkemuka, Guru Karawitan, Penyair serta Penulis Cerita Pendek berbahasa Sunda yang sangat kita kenal ini, sesudah mewawancarai beliau di kediamannya, Sundanet mencoba menampilkan profil tersebut yaitu Kang Nano S.
Tokoh yang mengaku "pituin" orang Garut, walaupun diujung namanya berakhiran "o", putera ke 6 dari 8 bersaudara buah perkawinan dari Bapak Iyan Suwarmo (alm), serta Ibu Nonoh Samanah ini "mengaku" dilahirkan pada tanggal 4 April 1944. Masa pendidikan dijalaninya di SR (Sekolah Rakyat) Sukarasa Gegerkalong Bandung, lulus tahun 1958, SMP PARKI II dan dilanjutkan ke Konservatori Karawitan (KOKAR) Bandung yang kala itu dipimpin oleh Pak Daeng Sutigna. Setelah lulus, Nano muda "dibenum" sebagai guru di SMPN I Bandung, merangkap mengajar di SMPN XV dan KOKAR. Dorongan yang kuat untuk melanjutkan studi menuntunnya melanjutkan ke ASTI pada tahun "70-an" dan berhasil menyelesaikan Sarjana Karawitannya di tahun 1979.




















