Hasil Pencarian

Hasil pencarian untuk kata kunci berik (70)

HAJI HASAN MUSTAPA

29 Jan 2003 - 9:41 pm

Haji Hasan Mustapa (Cikajang, Garut, 1852-Bandung, 1930). Penghulu besar, ulama, pujangga Sunda yang terbesar. Ayahnya, Mas Sastramanggala, setelah naik haji disebut Haji Usman, camat perkebunan. Meskipun Haji Usman sendiri waktu kecil bersekolah, tetapi Hasan Mustapa tidak disekolahkannya, melainkan disuruh belajar diberbagai pesantren. Pada umur 7 tahun, ia dibawa ayahnya naik haji ke Mekah, sekembalinya disuruh belajar di beberapa pesantren. Pada usia kira-kira 17 tahun dikirimkan ke Mekah untuk memperdalam ilmu agama dan bermukim disana 1.k. 10 tahun, setelah kembali ia masih disuruh belajar lagi kepada beberapa kiai.

SARITILAWAH NURHIDAYAH, KARYA BESAR MISKIN APRESIASIOleh: Iip Dzulkifli Yahya *

20 Dec 2002 - 11:55 pm

Setelah lebih dari tiga tahun usai penggarapannya, Saritilawah Nurhidayah (SN) anggitan Hidayat Suryalaga (HS), terasa masih miskin apresiasi. Saritilawah dari tiga puluh juz Al-Quran itu sosialisasinya masih terbatas.
Resensi melalui media ataupun diskusi ilmiah untuk membedahnya, hampir tak terdengar. SN cenderung beredar dari mulut ke mulut di lingkungan terbatas. Sebagai sebuah karya besar dalam bahasa Sunda, penyikapan demikian amat memprihatinkan.

Kerja sastra selama tigabelas tahun sungguh suatu prestasi mengagumkan. Tidak banyak sastrawan yang mampu mempertahankan energi kreatif untuk sebuah karya selama itu. Dalam kasus SN, tampak bahwa berkah Al-Qur'an telah memberikan limpahan energi kepada seorang HS. Hal ini menarik dalam konteks memperbincangkan sejauh mana keberislaman 'manusia' Sunda. Seberapa jauh Islam telah menggerakkan energi kreatif orang Sunda untuk melakukan sesuatu di luar budaya primordialnya.

NANO S.Lamun jadi Seniman Ulah Hees ku Hese, Kudu Lain jeung nu Lian, jeung Kade Poho Layu sabab Payu

24 Sep 2002 - 12:37 am

Setelah cukup sering menerima permintaan dari rekan-rekan netter agar SundaNet.Com menampilkan figur pencipta lagu-lagu Sunda terkemuka, Guru Karawitan, Penyair serta Penulis Cerita Pendek berbahasa Sunda yang sangat kita kenal ini, sesudah mewawancarai beliau di kediamannya, Sundanet mencoba menampilkan profil tersebut yaitu Kang Nano S.

Tokoh yang mengaku "pituin" orang Garut, walaupun diujung namanya berakhiran "o", putera ke 6 dari 8 bersaudara buah perkawinan dari Bapak Iyan Suwarmo (alm), serta Ibu Nonoh Samanah ini "mengaku" dilahirkan pada tanggal 4 April 1944. Masa pendidikan dijalaninya di SR (Sekolah Rakyat) Sukarasa Gegerkalong Bandung, lulus tahun 1958, SMP PARKI II dan dilanjutkan ke Konservatori Karawitan (KOKAR) Bandung yang kala itu dipimpin oleh Pak Daeng Sutigna. Setelah lulus, Nano muda "dibenum" sebagai guru di SMPN I Bandung, merangkap mengajar di SMPN XV dan KOKAR. Dorongan yang kuat untuk melanjutkan studi menuntunnya melanjutkan ke ASTI pada tahun "70-an" dan berhasil menyelesaikan Sarjana Karawitannya di tahun 1979.

DR. Ing. Tresna Dermawan Kunaefi, Ir.Ahli Lingkungan Hidup yang Mengantarkan Kopertis Wilayah IV ke Dunia Maya

13 Aug 2002 - 3:02 am

Teknologi Informasi modern berbasis internet yang mendukung sarana komunikasi, ditunjang promosi yang memadai, merupakan sarana vital dalam menyebarluaskan semua informasi khususnya di lingkungan kerja Kopertis Wilayah IV Jabar dan Banten.

Koordinator Kopertis Wilayah IV, DR. Ing.Tresna Dermawan Kunaefi merasa perlu untuk mengantarkan institusi yang diembannya tersebut ke dunia maya, sehingga informasi mengenai perkembangan,program-program yang sedang, telah dan akan dilaksanakan,serta segala sesuatu yang harus diinformasikan dapat diakses oleh masyarakat selama 24 jam tidak saja yang ada di Bandung atau Jawa Barat, bahkan diseluruh dunia. Untuk mengantarkan Kopertis Wilayah IV ke dunia maya tersebut, dibangunlah sebuah homepage www.kopertis4.or.id.

WAWACAN ANGLING DARMA

8 Aug 2002 - 6:23 am

Puteri Raja Bojanegara yang bernama Dewi Srenggana bermimpi melihat dan kejatuhan cahaya serta mendengar suara yang mengatakan bahwa sinar yang terang itu adalah penjelmaan Putri Setyawati dari Malawa yang meninggal karena labuh geni dan akan menitis, Dewi Srenggana semakin elok tiada bandingannya dan berganti nama menjadi Dewi Ambarawati.